Sebuah kutipan yang termaktub di dalam Al Quran Surat ArRum [30] ayat 41 yaitu

‘Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali kejalan yang benar’.

Di ayat yang lain Al Quran Surat Al Baqarah [2] ayat 205 yaitu

‘Dan apabila ia berpaling dari kamu, ia berjalan di Bumi untuk mengadakan kerusakan padanya dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan’

Dari kutipan tersebut diatas, apakah kita termasuk bagian dari mereka yang akan merusak kehidupan kita sendiri di bumi. Bumi adalah sebuah tempat berpijak manusia, dimana akifitas manusia pasti tidak bisa lepas dari fungsi-fungsi bumi sebagai penyedia sumber kehidupan, namun terkadang manusia terlena dengan keserakahan sebagaimana pesan Mahatma Ghandi Bumi Cukup Untuk Semua Orang tapi tidak cukup untuk satu orang rakus. Manusia terkadang melakukan pembenaran atas pengrusakan yang dilakukan dengan dalih tuntutan pembangunan dan perkembangan modernitas. Hak Asasi Manusia lainnya diabaikan, misalnya hak untuk memperoleh hidup sehat maka semestinya lahan harus di pelihara agar terus menerus memberikan kehidupan dengan penyediaan oksigen yang cukup dan bersih.

Kutipan diatas juga menjadi spirit dalam perumusan fikih lingkungan dalam rangka memberikan pencerahan dan paradigma baru bahwa fikih tidak hanya berpusat pada masalah-masalah ibadah dan ritual saja, tetapi fikih sebenarnya juga meliputi tata aturan yang sesuai dengan prinsip-prinsip agama terhadap realitas sosial kehidupan yang tengah berkembang dimasyarakat dan ini sangat sesuai dengan kajian ‘environmental teory’ bahwa dalam teori ini mengupas relasi Abiotik, Biotik dan Cultural.

Kalau kita mau melihat kondisi global status alam kita, maka kita berawal dari situasi perubahan iklim yang berangsur-angsur bergerak mengalami kenaikan. Nah, akibat perubahan iklim ini menjadi pemicu pemanasan global (global warming) dan menjadi momok yang sudah sangat menakutkan di belahan bumi manapun. Intergovermental Panel and Climate Change (IPCC) yang disokong oleh 2.500 ilmuwan sedunia, di Paris, 2 Februari 2007, mengungkapkan satu abad kedepan suhu bumi akan meningkat 1,8-8 0C. Pemicu utamanya adalah meningkatnya emisi karbon, akibat konsumsi secara berlebihan terhadap energi fosil di berbagai negara. Disamping itu, perusakan hutan secara besar-besaran di negara berkembang disinyalir mempercepat laju pemanasan global.

Ironisnya meskipun pemanasan global sudah menjadi isu dunia, Indonesia tetap saja getol dengan perusakan hutannya, pembukaan lahan untuk kelapa sawit, pertambangan dan lain-lain. Bahkan pada tahun 2006 Gueness Book telah meresmikan Indonesia sebagai negara perusak hutan tercepat di dunia.

Atas dasar realitas tersebut, kami Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah bidang Kehutanan dan Lingkungan Hidup akan terus mengawal isu lingkungan di tengah tekanan kuat pembangunan yang hanya berorientasi ekonomi global dengan melakukan berbagai agenda yang sudah di rumuskan dalam rapat kerja nasional di awal kepengurusan.

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here