Jakarta – Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak meminta Polri terbuka kepada publik soal meninggalnya MJ, terduga teroris yang ditangkap diIndramayu beberapa waktu lalu.

Kematiannya menyisakan tanda tanya karena ia meninggal usai dibawa Densus 88 untuk menjalani pemeriksaan.

“Terlepas dari apakah MJ terlibat dalam jaringan terorisme atau tidak, saya menganggap Densus 88 atau polisi harus terbuka terkait dengan kematian MJ. Jangan sampai mengabaikan penegakan hukum yang beradab,” ujar Dahnil melalui keterangan tertulis, Rabu (14/2/2018).

Tewasnya MJ mengingatkan pada kasus Siyono. Siyono merupakan terduga teroris yang ditangkap Densus 88 pada Maret 2016 di Klaten.

Saat ada penangkapan, polisi menyebut ada pergulatan dengan petugas sehingga Siyono tewas. Hingga kini, kasus kematian Siyono belum jelas penyelesaiannya, baik secara etik maupun pidana.

PP Pemuda Muhammadiyah merupakan salah satu pihak yang mengadvokasi keluarga untuk menuntut keadilan ataas tewasnya Siyono. Dahnil mewanti-wanti jangan sampai kejadian Siyono terulang pada MJ.

“Karena peristiwa seperti ini bukan justru mengubur terorisme, namun justru mereproduksi terorisme baru,” kata Dahnil.

Dahnil juga menemukan banyak kejanggalan dalam kematian MJ. Agar sinyal kejanggalan tak menjadi fitnah, maka Densus 88 perlu menjelaskan secara terbuka hasil autopsi terhadap MJ.

Selain itu, autopsi juga harus dilakukan secara independen untuk secara objektif melihat apakah MJ meninggal karena komplikasi penyakit atau karena faktor lain.

Selain itu, kata Dahnil, Densus 88 juga harus bisa menjelaskan mengapa keluarga dilarang membuka kafan jenazah MJ pada saat diserahkan kepada keluarga.

“Jadi, saya berharap Densus 88 dan Kepolisian terbuka, dan bila memang ada kesalahan dan maka harus ada hukuman pidana yang jelas,” kata Dahnil.

Jangan sampai, kata Dahnil, terjadi seperti nasib keluarga Siyono yang sampai detik ini tidak jelas penuntasan hukumnya.

Padahal, hasil autopsi terang membuktikan Siyono meninggal karena penganiayaan, bukan karena yang lain.

Keluarga MJ juga diminta tidak takut untuk secara aktif mencari keadilan. Dahnil mendorong pihak keluarga membawa kasus ini ke Komnas HAM agar bisa cepat ditangani.

“Untuk dibuktikan penyebab kematian MJ. Ini penting, dan polisi tidak boleh tertutup terkait dengan hal ini,” kata Dahnil.

Sebelumnya, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto membenarkan bahwa MJ meninggal setelah dibawa Densus 88 untuk menjalani pemeriksaan.

“Saya mendengar bahwa ada kasus tersebut, ada penangkapan kemudian meninggal,” ujar Setyo di kompleks Mabes Polri, Jakarta, Selasa (13/2/2018).

Namun, Setyo mengaku belum mengkonfirmasi penyebab meninggalnya MJ. Ia juga belum bisa memastikan apakah MJ meninggal karena mendapat kekerasan selama pemeriksaan atau penyebab lain.

Sebagaimana dilansir dari Tribunnews.com, MJ dimakamkan di Kapuran, Kota Agung, Lampung. Jenazahnya tiba di rumah duka pada Sabtu (10/2/2018) sekitar pukul 5.00 WIB. Ia kemudian disalatkan di masjid sekitar dan dimakamkan.

Sebelumnya, Densus 88 Antiteror menangkap MJ di Kecamatan Haurgelis, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (7/2/2018). Ia diamankan bersama istrinya, ASN, yang juga dibawa untuk dimintai keterangan.

MJ sehari-hari berprofesi sebagai pedagang es. MJ diduga anggota kelompok Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) binaan terpidana teroris yang saat ini mendrkam di Lapas Cipinang, Ali Hamka. Ia pun diduga terlibat dalam kegiatan kelompok teroris di Indonesia.

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here