31.5 C
Jakarta, Indonesia
Minggu, 22 Oktober 2017

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah dari Periode ke Periode :

Dahnil Anzar Simanjuntak

Dahnil Anzar Simanjuntak atau yang akrab disapa Anin adalah Ketua Pemuda Muhammadiyah ( Periode 2014-2018 ). Ia lahir di sebuah desa terpencil bernama Salahaji, dipinggiran Aceh Tamiang (Aceh Timur) berbatasan dengan Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat Sumatra Utara, pada tanggal 10 April 1982.

Selengkapnya >>

Saleh P Daulay

Ia Merupakan seorang aktivis Angkatan Muda Muhammadiyah. Dia memulai aktivitas organisasinya sejak menjadi mahasiswa di Universitas Sumatera Utara. Dia pernah menduduki dua kali jabatan Ketua Umum Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Fakultas Sastra, yang kemudian mengantarkannya untuk menjadi salah seorang Ketua Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kotamadya Medan.

Selengkapnya >>

Izzul Muslimin

Selengkapnya >>

Abdul Mu'ti

Tercatat sebagai anggota Muhammadiyah sejak 1994 dengan nomor anggota 750178, pernah mejabat sebagai Sekretaris PWM Jateng periode 2000-2002, Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah periode 2002-2006, dan Sekretaris Majelis Dikdasmen PP Muhamamdiyah 2005-2010.

Selengkapnya >>

Imam Addaruqutni

Selengkapnya >>

Hajriyanto Y Thohari

Hajriyanto Y. Thohari adalah Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia 2009-2014. Pria kelahiran Karanganyar 26 Juni 1960 ini dikenal sebagai sosok yang religius. Dia bahkan sering didapuk sebagai juru doa ketika ada acara di forum Majelis Permusyawaratan Rakyat.

Selengkapnya >>

Din Syamsuddin

Prof. Dr. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, MA dikenal pula dengan nama pendek dan lebih populer, Din Syamsudin. Suami Fira Beranata ini lahir di Sumbawa Besar, 31 Agustus 1958.

Selengkapnya >>

Habib Chirzin

Selengkapnya >>

Sutrisno Muchdam

Sutrisno Muhdam lahir di Klaten, Jawa Tengah, 14 Oktober 1938 dan menutup usianya di Yogyakarta, 12 Desember 2012. Ketokohan Sutrisno begitu kuat bukan saja karena pernah menduduki sejumlah jabatan penting di Muhammadiyah, melainkan juga karena ia merupakan saksi sejarah persyarikatan yang menghubungkan satu peristiwa ke peristiwa lainnya.

Semasa kuliah di IKIP Muhammadiyah Jakarta (sekarang UHAMKA), Sutrisno menjadi salah satu tokoh yang membidani lahirnya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Ia juga terlibat dalam pembentukan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Ia merupakan ketua PP Pemuda Muhammadiyah selama dua periode, yaitu 1975-1980 dan 1980-1985. Ia juga masuk jajaran PP Muhammadiyah dalam rentang cukup panjang, yaitu mulai 1985 hingga 2000.

Sutrisno termasuk tokoh Muhammadiyah yang memelopori bergabungnya ABRI dalam pembentukan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) untuk melawan G.30.S PKI. Ia juga menjadi salah satu anggota Komite Reformasi sembilan tokoh Islam yang hadir memenuhi undangan Soeharto ke istana pada 18 Mei 1998 berkaitan dengan pernyataan pertama lengser dari presiden dan agenda reformasi. Pada 1997-1998, Sutrisno menjadi anggota MPR RI utusan golongan, dan pada 1998-2002 ia tercatat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung komisi Ekuin.

Lukman Harun

Lukman Harun adalah salah satu tokoh Muhammadiyah paling berpengaruh, kakak angkatan Amien Rais, Din Syamsuddin, juga Syafii Maarif. Ia pengibar panji-panji organisasi bentukan KH Ahmad Dahlan itu di dunia internasional. Din Syamsuddin bahkan menjulukinya sebagai Menteri Luar Negeri-nya Muhammadiyah.

Lahir di Limbanang, Suliki, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, pada 6 Mei 1934, Lukman Harun punya sederet jejak-rekam yang gemerlap, dari semasa mahasiswa saat aktif di berbagai lini pergerakan, juga kiprah politiknya serta perannya di jangkauan yang lebih luas.

Selepas lulus SMP Muhammadiyah di Payakumbuh pada 1947, Lukman Harun merantau ke Jakarta dan melanjutkan sekolahnya di ibukota. Kemudian lanjut kuliah di Universitas Nasional dan menjadi Ketua Dewan Mahasiswa di perguruan tinggi tersebut.

Di periode yang sama, Lukman Harun memulai “kariernya” di Muhammadiyah dengan menjabat sebagai Ketua Pengurus Pusat Pemuda Muhammadiyah. Ia juga aktif di Majelis Mahasiswa Indonesia (MMI) serta beberapa organisasi pergerakan mahasiswa lainnya, termasuk Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Usai Gerakan 30 September 1965, Lukman Harun vokal menyerukan ganyang Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dituding sebagai biang keladi peristiwa berdarah itu. Ia bahkan menjadi Ketua Pengerah Massa Kesatuan Aksi Pengganyangan Gestapu/PKI dan turut andil dalam menumbangkan rezim Sukarno alias Orde Lama.